"... bahkan ketika kita beli sendal jepit pun ada baiknya kita
konsultasi dulu dengan Allah." ucap senior saya di ROHIS kampus saat
itu. "Wah bang kalu setiap mau beli sendal kita shalat istikhoroh dulu
ribet dunk." teman saya nyeletuk. Senior yang wajahnya bersih bersinar
itu tersenyum." Tidak harus shalat istikhoroh cukup baca bismilallah
trus minta ijin Allah - ya Allah saat ini hamba akan beli sendal jepit,
mohon ijin mu ya Allah bahwa sendal ini baik untuk ku, untuk agamaku
dan untuk orang orang disekitar ku. karena engkau lah yang maha tahu."
Ucapan indah itu membuat saya termenung.
Saya jadi berpikir yang bisa kita lihat sangat terbatas,
yang bisa kita dengar hanya sedikit, kita bisa merasa hanya yang kita
sentuh, untuk masa depan ... kita hanya bisa menduga duga. Saya jadi
takut keputusan saya, keinginan saya, pendapat saya selama ini hanya
dipengaruhin nafsu, rasa takut, ego, serta ilmu saya yang cetek. Saya
melupakan yang maha tahu, yang maha penyayang, yang mengabulkan segala
doa. Bahkan untuk hal besar dalam hidup saya seperti pekerjaan, calon
pendamping hidup, saya kadang lupa bertanya pada Allah.
Teman
saya pernah bilang "Ar, gw sih tau kalu pengen dapet jodoh terbaik kita
harus tanya ke Allah, tapi gw takut jawaban Allah berbeda sama yang gw
pengen. Gimana dong, gw udah nyetrum banget sama gebetan gw yang
sekarang". Atau "gini, gw tetep shalat istikharah tapi gw pura pura aja
kalo gw nggak dapet petunjuk apa apa, apapun petunjuknya gw tetep
milih gebetan gw, bener nggak, ar. " saat itu saya melotot." Lu niatnya
aja mau nipu Allah gimana hasil nya bakal berkah." Ucapan saya sangat
tegas, tetapi apa yang saya lakukan akhir akhir ini seperti mengamini
ucapan teman saya itu.
Pikiran saya melayang ketika berdebat
soal apakah indonesia harus menjadi negara islam atau tidak. Jawaban
saya sepertinya sama dengan anda Tidak, tidak, tidak, tidak. Indonesia
adalah nagara plural, multi budaya, multi agama, multi etnis, bla bla
bla, nggak mungkin lah kita egois memaksakan idealisme kita bla bla
bla.
Senior saya yang super baik itu tersenyum." Ar kamu percaya
nggak kalau alquran itu benar, dan diciptakan oleh Allah yang maha
tahu?"
"Percaya lah gila"
"Percaya ngga kalau alquran dan hadist itu mengatur semua aspek kehidupan manusia, termasuk pemerintahan."
"Iya, gw memang baca dan ada aturan aturan itu."
"Percaya nggak kalu islam merupakan rahmatanlil alamin, rahmat bagi alam semesta, bukan hanya untuk orang islam doang."
"Iya saya yakin untuk hal tersebut."
"Pernah baca sejarah kan, kalau pada jaman nabi muhamad pun, bukan hanya ada umat islam."
"Dari
sejarah yang saya baca memang saat itu ada kaum muslimin, kaum kafir
dan kamu munafiqin. Semua bisa hidup dengan damai. Ini disebabkan karena
islam sangat mencintai perdamaian, bahkan nabi muhamad pernah berkata
‘Barangsiapa menyakiti orang zhimmi (ahlu zhimmah) maka aku akan
menjadi seterunya. Dan siapa yang aku menjadi seterunya dia pasti kalah
di hari kiamat. Beliau juga memperingatkan, ‘Barangsiapa yang
menyakiti orang dzimmi, dia telah menyakiti diriku dan barangsiapa
menyakiti diriku berarti dia menyakiti Allah." (catatan = ahlu zhimmah
adalah orang non muslim yang berada ditengah kaum muslim)
Mendenger
penjelasan saya yang panjang, senior saya itu terdiam, menepuk pundak
saya lalu berkata." Coba antum renungin lagi apa yang antum yakini."
Saya bengong. Saya malu. Saya merasa memiliki dua kepribadian yang berbeda.
Tulisan
ini sama sekali tidak membahas tentang apakah negara kita harus
menerapkan syariah atau tidak. Tulisan ini mudah mudahan jadi teguran
untuk kita tentang keyakinan kita. Kita tahu Allah maha tahu tapi toh
kita jarang bertanya pada nya, kita yakin Allah maha kuasa tapi kita
tidak pernah meminta ijin nya, kita tahu Allah maha pencipta, tapi kita
tidak mengikuti petunjuknya. kita tahu Allahmaha pengampun tapi kita
tidak pernah bertobat, kita tahu Allah maha pemurah tapi kita jarang
meminta, kita tahu Allah maha agung tapi kita sering berburuk sangka
ketika doa kita tidak dikabulkan.
Komentar teman saya." Ar gw
pernah berdoa untuk bisa menikah dengan orang yang gw sayang, gw percaya
Allah maha pengasih, pengabul doa, tapi kenapa doa gw nggak dikabulin
sehingga lamaran gw ditolak?"
Saya bertanya apakah dia pernah mendapat masukan tentang pilihannya
Jawab teman saya." Iya sih temen temen gw, dan keluarga memang nggak setuju dengan pilihan gw itu."
Kalo
saya ilustrasikan kita seperti anak kecil yang ingin main solder
listrik. Kalau keinginan kita tidak di kabulkan untuk kebaikan kita,
kita marah dan menganggap Allah tidak ada. Tetapi saat permintaan kita
dikabulkan untuk menguji atau menegur kita, lalu tangan kita terbakar
oleh solder tadi, kita menangis dan menganggap Allah tidak penolong.
Saat diberi penjelasan mengenai bahaya solder listrik kita toh seperti
teman saya yang diberi masukan oleh rekan rekannya, tidak mau tahu.
Mudah mudahan kita tidak termasuk orang yang karena kebodohan kita menyalahkan Allah. amien
semoga tulisan ini bermanfaat.
Lihat Sumber : http://www.kabarislam.com/artikel-motivasi/lapor-ya-allah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar